SELAMAT DATANG DI BLOG TENUN IKAT BANDAR KIDUL KEDIRI - SMA PAWYATAN DAHA KEDIRI

Postingan Baru

Tampilkan postingan dengan label SISI LAIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SISI LAIN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 April 2016

PEMASARAN TENUN IKAT BANDAR


     Semua berawal dari usaha industri tenun ikat warisan keluarga  yang berkembang menjadi usaha besar serta dapat menyongsong KUB  masyarakat. Kota Kediri meningkat dan lebih terjamin. Dimulai  dari pemasaran ke  batas Kota Kediri dan kota-kota disekitar Kediri misalnya Tulungagung,Blitar dan Nganjuk. Sekarang sudah mengalami perubahan atau kemajuan dapat merambat ke kota-kota besar seperti Surabaya, Kalimantan, Bandung, Jakarta. 

Bahkan kini tenun ikat Bandar Kidul  mulai menuju pasar internasional, dan sekarang industri ini menekuni di Negara Singapura yang  merupakan pasar internasional. Mengapa demikian menurut pendapat Bapak Eko Hariyanto selaku ketua KUB, "kita menekuni pasar internasional tersebut ,karena semua masyarakat dari penjuru dunia berkumpul dan berbelanja disana. Jadi kita dapat memasarkan tenun ikat Bandar Kidul dengan luas.

by : Andri Hermanto

Rabu, 13 April 2016

INTI TELKOM MENJADIKAN KAMPUNG DIGITAL


KEDIRI - Tenun ikat kediri Go Internasional di support oleh banyak pihak salah satunya adalah PT TELKOM, Telkom mendukung kegiatan ini karena agar tenun ikat kediri bisa Go Internasional dan juga karena telah bentuknya suatu forum pengembangan UMKM dan keuangan eksklusif kota kediri. Selain terkenal dengan produk makanan tahu di kota kediri terdapat satu icon yang bisa Go Internasional yaitu tenun ikat bandar kidul.
    "Kita itu tujuannya mengedepankannya untuk rekan-rekan yang UKM pendapatnya 300 kebawah. Disana ada pengrajin yang di jadikan satu ada 20 pengrajin dan kita kasih internet juga paket digital yang kecepatannya 10 Mbs . Sekarang lebih dikenal indihome kampung digital nantinya tiple play yang untuk telpon bisa internet sama use Tvnya . Tujuan umum memilih itu karena ada sentralnya atau rencananya kelompok  pemerintah kota  itu singahan , jadi nanti di Gor akan dibuat showroom  kampung UKM bandar kidul . Terus kita dari Telkom memilih kampung digital karena sudah satu wadah , satu kampung jadi mereka pengrajin tenun ikat semua".Ujar Bapak Misdianto selaku assisten manager unit bisnis bagian kafermen.
      Jadi dengan pernyataan dari pihak Telkom diatas dapat diketahui mengapa masalah inti Telkom menjadi kampung digital adalah mereka mengedepannya rekan-rekan yang UKMnya masih dibawah atau menengah menjadi layak .Dengan memilih kampung tenun ikat Bandar Kidul sebagai kampung digital .Karena pengrajin tenun ikat bandar perlu dibekali IT agar dapat menjual atau mempromosikan tenun ikat Bandar Kidur ke seluruh wilayah Indonesia dan dengan dilaksanakannnya Kampung Digital ini ,sekarang terbukti bahwa pemasaran  tenun ikat Bandar Kidul telah sampai diluar pulau Jawa bahkan Luar negeri seperti Singapura.

by : Andy Riya .M

Senin, 11 April 2016

INDUSTRI KREATIF KEDIRI DIHARAPKAN MAMPU MENEMBUS PASAR DUNIA.


     KEDIRI - Pemerintah Kota Kediri, Jawa Timur ingin kain tenun ikat yang merupakan produksi khas dari industri di kota ini bisa semakin dinikmati oleh masyarakat se-Nusantara maupun dunia.
     Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar mengemukakan pemerintah ingin  menggerakkan ekonomi rakyat, terutama industri kreatif tradisional kain tenun ikat. Kain ini adalah ciri khas kerajinan dari Kediri yang sudah terkenal. “Kami ingin terus gerakkan ekonomi kreatif. Kami ingin pereekonomian warga bergerak. Kain tenun adalah salah satu produk unggulan Kota Kediri,” katanya Senin (30/1/2015).
     Wali Kota mengatakan, produk tenun ikat asal Kediri ini berbeda dengan tenun ikat dari daerah lain. Setiap kain tenun dibuat satu per satu dengan mesin tradisional dan dipintal.  “Tenun itu adalah produk tangan dan ini yang bikin tenun Kediri beda. Tenun ini punya corak beda, dan kami ingin kerjasama dengan daerah lain supaya tenun ikat bisa dikombinasi dengan tenun daerah lain,” katanya.
     Wali Kota Abdullah Abu Bakar juga mengatakan, pemerintah tidak henti-hentinya mendorong pengusaha tenun ikat di Kediri ini untuk terus berkarya dan tidak gulung tikar. Pemerintah memberikan wadah agar usaha mereka terus berkembang, salah satunya dengan mengikutsertakan tenun khas Kediri itu dalam berbagai macam pameran baik nasional ataupun internasional.
     Sejumlah acara pernah dihadiri baik tingkat nasional atapun internasional, misalnya Konferensi Asia Afrika di Bandung yang digelar pada April lalu. Kain tenun dari para perajin di Kediri sengaja dibawa dan dipamerkan. Bahkan, animo pembeli baik pembeli dalam negeri ataupun luar negeri cukup bagus.
Selain di Bandung, sejumlah acara pameran lain juga diikuti, seperti di Malang, serta pameran Inacraft 2015, di JCC Senayan, Jakarta. Hal itu dilakukan sebagai upaya mengenalkan produk tenun ikat dari Kediri ini. Bahkan, akhir pekan lalu, pemkot juga menyelenggarakan festival batik-tenun, yang menampilkan berbagai produk khas dari Kediri serta daerah lain di Jatim.
     Abdullah Abu Bakar yang akrab disapa Mas Abu itu berharap, industri kreatif tenun ikat ini terus berkembang. Pemkot pun juga mendukung agar usaha ini berkembang, di antaranya dengan membeli hasil produk tenun ikat.  “Tenun ikat ini ciri khas Kediri. Ke depan kami berharap usaha ini terus berkembang,” harapnya.

Promosi Luar Negeri
     
Sementara itu, istri Wali Kota Kediri Ferry Silviana Feronica juga mengatakan pemerintah di setiap kesempatan juga melakukan promosi. Bahkan, ia pun tidak segan untuk mempromosikan kain tenun ikat kepada para pejabat.  Salah satu caranya, saat acara Women in Leadership in The UK and Indonesia yang digagas Kedubes Inggris, Juli lalu,
     Bunda Fey—panggilan akrabnya—sengaja datang guna memperkenalkan tenun ikat khas Kediri itu. Ia merasa bangga dengan produk tenun ikat khas Kediri itu, dan ia berharap tenun ikat ini bisa mendunia. “Semua kota punya batik, tapi saya mau bilang kalau tenun di Kediri sangat layak diangkat. Tenun ini merupakan bagian dari tradisi yang sangat bernilai,” ujarnya saat itu.
     Di Kota Kediri, kerajinan tenun ikat banyak terdapat di Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Awalnya, UMKM itu ada ratusan, tapi saat ini hanya ada puluhan saja.  Saat ini, terdapat 139 mesin tenun yang tersebar di sejumlah perajin tenun, denga beragam pengusaha baik yang sudah besar ataupun kecil. Dari usaha kerajinan itu, diketahui mampu menyerap sampai 210 tenaga kerja.

By : Andy Riya .M

Rabu, 30 Maret 2016

PASANG SURUT TENUN IKAT BANDAR KIDUL




Sejarah tenun ikat di Kediri diawali oleh warga keturunan Thionghoa 1950. Kini, pengrajin tenun ikat tersentral di Bandar Kidul.

     TENUN ikat adalah sebuah produk budaya yang menyebar hampir di semua daerah di Indonesia. Mulai dari tenun ikat Troso di Jepara, Jawa Tengah hingga kain gringsing dari Karangasem, Bali. Semua memiliki ciri khas masing-masing dari sisi motifnya. Kesamaan mereka ada pada teknik pembuatannya yang menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).
     Nah, Kota Kediri juga memiliki pengrajin tenun ikat yang tersentral di Kelurahan Bandar Kidul. Lokasinya tak jauh dari alun-alun Kota Kediri atau hanya dibatasi oleh Sungai Brantas yang melintas di tengah. Kalau alun-alun berada di sebelah timur sungai, sentra tenun ikat Bandar Kidul berada di barat sungai, sekitar 1 kilometer kalau diukur jaraknya.
     Ada sekitar 12 tempat usaha tenun di Bandar Kidul yang menghasilkan berbagai jenis kain antara lain sarung goyor, kain tenun sutra ataupun semi sutra, syal atau selendang, juga ada yang sudah dalam bentuk produk jadi seperti baju, seragam atau kebaya.
     Berbagai motif kreasi pengrajin lokal menjadi ciri tenun ikat Bandar Kidul. Kebanyakan mengandalkan motif bunga dengan pewarnaan yang berani atau menampilkan warna-warna terang. Motif khas Kediri tersebut oleh pengrajin juga disebut motif ceplok atau lung.

Sarung Tenun Ikat     KISAH
tentang tenun ikat di Kota Kediri bermula dari seorang warga keturunan Tionghoa, Freddy Jie yang membuka usaha tenun di Jl Yos Soedarso atau saat ini dikenal sebagai daerah Pecinan.
Usaha yang dirintis sejak  1950-an oleh Freddy mengalami perkembangan pesat. Saat itu, usaha tenun ikat ini memiliki sekitar 200 alat tenun bukan mesin (ATBM) dan ratusan buruh tenun. Usaha tenun ini hanya memproduksi sarung dengan motif sederhana kotak-kotak.
     Pada masa itu, masyarakat yang tinggal di barat sungai Brantas dikenal memiliki kehidupan ekonomi terbelakang atau miskin. Rata-rata buruh tenun ikat milik Freddy berasal dari daerah sekitar Desa Bandar Kidul, Banjar Mlati, Waung dan Bandar Lor yang kesemuanya berada di barat sungai dan berada di wilayah Kecamatan Mojoroto.
     Prahara 1965 tidak berpihak pada Freddy, karena saat itu etnies Tionghoa termasuk dalam kelompok yang tersingkir pasca peristiwa 30 September 1965. Usaha tenun ikat Freddy Jie tutup, dan karyawannya dirumahkan. Selain usaha tenun ikat Freddy Jie, semua jenis bidang usaha yang dikelola etnies Tionghoa juga mendapatkan tekanan serupa.
1965 adalah masa-masa suram bagi industry tenun ikat Kediri, para pekerja menganggur karena tutupnya tempat usaha Freddy. Ada beberapa karyawan yang merintis usaha tenun ikat, namun kondisi ekonomi membuat bahan baku sulit di dapat. Pada akhir 1965 praktis industri rumahan tenun ikat di Kota Kediri berada di titik nadir.
     
     PEMBANTAIAN pada mereka yang dicap komunis membuat permintaan sarung melonjak pada 1966. “Sarung menjadi ciri khas santri, masyarakat berlomba-lomba memakai sarung berharap agar tidak ikut dibantai,” begitu keterangan Siti Ruqayah. Sejak itulah, para mantan buruh tenun Freddy Jie akhirnya banyak yang mendirikan usahanya tenun ikatnya sendiri.
     Belasan tahun kemudian, puluhan industri rumahan sudah berdiri mapan dengan rata-rata setiap industri tenun memiliki 100 – 200 alat tenun bukan mesin (ATBM).
     Merek-merek terkenal seperti Kodok Ngorek, Sarung KB hingga Tenun Barokah bermunculan dan meraih hati pelanggan setia. Sebagian besar industry ini berada di wilayah Kelurahan Bandar Kidul, sebagian lagi menyebar tapi tetap berada di wilayah Barat sungai Brantas.
     Kejayaan tenun ikat Kediri mulai surut pada sekitar tahun 1985-an. Kebijakan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto kala itu yang mengimpor mesin tenun modern yang memproduksi sarung kotak-kotak membuat harganya menjadi murah.
     Tenun ikat produksi perajin manual kalah bersaing dipasaran. Periode itu membuat kolaps banyak pengrajin, hanya beberapa yang masih bertahan, sebagian besar lebih memilih menutup usaha karena terus merugi.
Lalu muncullah generasi pengrajin baru di media awal 1990-an. Ini adalah periode saat Medali Emas mulai dirintis oleh Munawar. Karena alat tenun modern hanya bisa membuat kain motif kotak-kotak, para pengrajin tenun ikat di Kediri akhirnya memutuskan membuat hal yang menjadi pembeda antara produknya dengan sarung buatan pabrik, dengan membuat motif-motif baru yang terinpirasi bunga-bungaan.
Sejak saat itulah, pelan-pelan tenun ikat Bandar Kidul mulai mendapatkan celah pasarnya kembali. Medali Emas juga mengalami pasang surut. Sempat kolaps pada krisis 1998, tahun 2000 Medali Emas  bangkit dan hingga saat ini telah memiliki 43 ATBM dengan 85 tenaga kerja.

UMKM-Tenun-Kediri (3)     ADA
minimal 14 tahap dalam proses pembuatan selembar kain tenun ikat. Semua tahapan tersebut tidak dilakukan dengan mesin, tapi oleh tangan-tangan pekerja dengan proses manual. “Tahap pertama memberikan warna dasar pada benang,” kata Siti Ruqayah, pemilik tenun ikat Medali Emas..
Seusai pewarnaan, benang yang kusut karena proses pencelupan diurai dalam proses pemintalan. Lalu benang-benang yang sudah lurus ditempatkan dalam kerangka kayu untuk kemudian diwarnai, sesuai dengan motifnya. Nah dalam proses pewarnaan ini kemudian benang-benang tersebut diikat.
Setelah selesai memberikan motif, kemudian masuk dalam proses pewarnaan kedua. Proses ini disusul dengan penjemuran untuk memperkuat warna. Setelah semuanya dilalui, tahap terakhir adalah masuk dalam mesin tenun. Di sinilah proses yang memakan waktu cukup lama.
     “Proses yang lama dan manual inilah yang membuat tenun tidak bisa dijual murah, nama tenun ikat berasal dari tahap mengikat benang dan proses pemberian motifnya,” Siti Ruqayah memberikan penjelasan. Siti juga mengeluh, susahnya mencari pekerja usia produktif yang mau menekuni proses pembuatan kain tenun. (Arief Priyono)

 

Subscribe to our Newsletter

Contact our Support

andricyber12@gmail.com

Our Team Memebers